Read more: http://infosinta.blogspot.com/2012/04/cara-unik-agar-potingan-di-blog-tidak.html#ixzz2Kb9xz7lD Februari 2013 | Hitam di Atas Warna

Cahaya itu



Aku melihat cahaya-cahaya
Aku tahu kau juga melihatnya
Tapi kau dan aku beda
Aku menggenggam dengan sayapku
kau berkukuh mengenggam di tanganmu
Aku menahannya dengan berbagai harapan
kau genggam semua dengan impian
Suatu saat nanti aku berharap
Harapanku dan impianmu
Akan satu dibawah harmoni
Yang menghantar kau dan aku
Pada cahaya yang sama
Di suatu tempat diujung jalan sana

februari 2013

Tulisan untuk Ikal (3)


Hari ini hatiku patah, well … tidak sampai remuk dan menjadi serpihan sih, cuma retak-retak dan sedikit terbelah saja, itu pun cuma secuil.

Nanti, akan ada momen di mana hatiku akan patah lagi atau mungkin saja remuk. Hihi.

Aku sudah biasa. Toh, yang aku pakai ini hanya hati palsu yang aku beli di toko. Diobral di sepanjang jalan dengan harga eceran yang terjangkau, sepuluh ribu dapat tiga. Jadi kalau patah dan hancur lagi, aku akan pakai yang baru—percaya tidak? Aku sudah sedia beberapa bungkus di dalam laci lemari.

Eh, kau tidak ingin bertanya ada di mana hatiku yang asli?

Serius tidak mau bertanya?

Aih, memangnya kapan kau bertanya soal hal-hal sepele macam itu ya?

Seingatku kau jarang bersuara, menyimpan pikiran-pikiran itu hanya untuk dirimu sendiri, bahkan tawa pun jarang kau bagi. Tapi, itu lah yang membuatku sampai jungkir balik menggilaimu. Ish, omonganku jadi melebar.

Hatiku ada padamu, ciyuus loh. Kalau tidak percaya coba kau periksa saku-saku bajumu, saku jaket dan kemejamu juga, atau … coba kau periksa tong sampahmu pagi ini.


Februari 2013

Tulisan untuk Ikal (2)


Lima hari yang lalu aku berniat menelepon Mama, namun ternyata jemariku malah menekan nomor teleponmu, Ikal. Untung saja lekas aku tutup, kalau tidak kau pasti terganggu.  

Aku hanya sangat merindukan Mama dan juga suara-suara cerianya hari itu, sengaja aku memberi pulsa telepon lebih banyak dari biasanya agar aku bisa berbicara panjang lebar dengannya. Kendati, aku tahu bahwa Mama hanya akan mengumbar cerita mengenai betapa hebat suami barunya itu—ayah tiriku.

Mama akan menjawab teleponku seusai memanjakan ayah tiriku; menyiapkan hidangan makan malam, memijat bahu, menemani berbicara. Karena itu aku tetap Insomnia, selain karena kau juga karena Mama.

“Hallo, Assalamu’alaikum?”

“Wa’alaikumsalam, ada apa?”

“Hanya ingin menelepon,”

“Ada yang ingin kamu bicarakan? Jangan bilang soal Ikal yang tak kunjung membalas cintamu itu lagi, Mama suntuk sekali rasanya dengan cinta-cintamu yang selalu bertepuk sebelah tangan. Kenapa tidak pilih sesuai takdirmu saja?”

Aku menarik ujung bibirku ke arah berlawanan. Mama selalu menggerutu tiap aku bercerita tentangmu. Katanya, aku pemimpi. Katanya, aku terlalu bodoh. Katanya, aku tidak butuh lelaki, tidak untuk saat ini. Dan katanya, rambutmu tidak ikal tapi keriting, tapi peduli amat aku lebih suka memanggilmu ikal, ikal, ikal saja.

“Nggak kok Ma …”

“Lalu mau cerita apa?”

“Cerita tentang pria yang aku cintai,” ujarku tersenyum.

“Hoo. Kamu nemu yang baru rupanya. Siapa?”

“Ikal.”


Februari 2013

Diam-diam, Kau Merapal Namanya


Diam-diam, Kau Merapal Namanya

Juni sengaja mengetuk-ngetuk pelipir meja dengan pensil mekaniknya, membentuk irama-irama perkusi yang asal-asalan. Lehernya sudah enggan berputar meski hanya sekadar menengok ke arah jam dinding atau arloji Armani yang melingkari pergelangan tangannya.

“Juli, ini lama banget lah … bisa mati kering aku,” rengeknya.

Seorang gadis bermata bulat dengan hidung yang mencuat dari wajah manis itu terkekeh, kekehannya renyah sekali seperti kraker beras. “Ah, lu jadi cowok gak sabaran amat sih, kangen ya sama Agus?”

“Yeee … pegel tahu, dia ‘kan cowok kamu, kenapa mesti aku ikutan nunggu,”

“Kalian ‘kan mulai akrab sekarang-sekarang, berkat gue! Berterimakasih dong,” dia tertawa lagi.

“Nggak guna, Jul. Ini filmnya bentar lagi mulai, dan—“

“Hai,” sebuah tepukan mendarat di bahu Juni, seketika tubuhnya seperti di gelitik. “Lama nunggu? Maaf, Buah batu macetnya keterlaluan,” selorohnya tanpa diberi pertanyaan.

Juli tertawa, dengan serta merta kedua lengannya meraih bahu Juni dan juga Agustus—menggiring mereka ke loket tiket. Tiga tiket untuk film Harry Potter and the Order of Phoenix, nomor 13B, 14B, 15B dari seorang petugas tiket yang rambutnya berwarna brunette.

Juni-Juli-Agustus.

Agustus meletakkan lengannya di atas kursi Juli, bibirnya merapal mantra-mantra puji dan rayu di telinga Juli. Gadis itu kembali tertawa bersama dengan Juni yang merona wajahnya, ketika jemari Agustus—yang melewati kursi Juli—bertaut di jemarinya.


Februari 2013 mengingat satu adegan di Cinema XXI, Bandung Indah Plaza, 2010

Tulisan untuk Ikal


Tulisan untuk Ikal

Aku menulis namamu diatas bulir pasir,
Sempat berniat untuk kukerat lantai bumi dan kujadikan pigura



Halo Ikal, apa kabar? Apakah kau masih menatap dunia dengan pandangan menelisik—yang membuatku sadar betapa cerdasnya kau. Aku harap detak-detak kecil yang tersembunyi di balik kain kemejamu masih terus beriringan, aku harap mereka tak berkhianat padamu, tidak untuk saat ini.

Ikal, apakah kau tahu bahwa malam ini tanpa sengaja aku lagi-lagi menumpahkan secangkir kopi hitam tanpa gula diatas karpetku ketika aku menulis tentangmu? Kau pasti tidak tahu, karena aku baru saja akan menyampaikan ini padamu lewat bisikan angin dalam bait mimpi yang tentunya tak akan kau hiraukan.

Duniaku kini penuh dengan bunyi dari detik jam. Tik tak. Tk tak. Begitu terus berulang-ulang. Ditambah lagi kemarin aku baru saja merampungkan sebuah kado untuk kawanku, Winny. Isinya sebuah jam, seharga tigapuluh ribu rupiah di Toserba dekat kampus. Kini, ada empat buah jam yang bernyanyi di kamarku.

Selama aku mendengar detik-detik yang mulai berlalu, entah kenapa aku jadi semakin rindu padamu. Padahal, aku ingat betul bahwa beberapa hari yang lalu aku memutuskan untuk menyematkan rindu-rinduku pada biji bunga dandelion agar mereka mau pergi menghilang bersama angin.

Untuk Ikal yang belum menjadi milikku. Jam tiga nanti, beker milik tetanggaku akan berbunyi dan aku akan menemuimu dengan segera agar rindu ini hilang, dalam mimpi.


Februari 2013

Pinta Awan



Kumohon...!
Jangan kau lukai wajahmu yang sudah pedih karena kecewa
Luka yang ada karena asamu, biarkanlah dia terhapus oleh hujanku
Yang turun tiada henti, meminta hentikan tangismu itu

Cermin



aku telah menunduk dan berkaca pada cermin yang mengaliri kakiku malam ini
salah siapa? salah siapa? pantaskah aku?
dicermin ini, wajahku carut marut 

tergores, tercakar dan terbakar
perasaan kau dan aku. dan dia...



desember 2012

Mulut Itu



Mulutmu tajam, mulutmu berduri
Menyakiti dengan kalimat usang
Yang kau buat sendiri

Mulutmu bisa, mulutmu beracun
Meracuni dengan kalimat nista
Yang kau cipta sendiri

oktober 2012