Tulisan untuk Ikal (3)
Hari ini hatiku patah, well … tidak sampai remuk dan menjadi serpihan sih, cuma retak-retak
dan sedikit terbelah saja, itu pun cuma secuil.
Nanti, akan ada momen di mana hatiku akan patah lagi
atau mungkin saja remuk. Hihi.
Aku sudah biasa. Toh, yang aku pakai ini hanya
hati palsu yang aku beli di toko. Diobral di sepanjang jalan dengan harga
eceran yang terjangkau, sepuluh ribu dapat tiga. Jadi kalau patah dan hancur
lagi, aku akan pakai yang baru—percaya tidak? Aku sudah sedia beberapa bungkus
di dalam laci lemari.
Eh, kau tidak ingin bertanya ada di mana hatiku
yang asli?
Serius tidak mau bertanya?
Aih, memangnya kapan kau bertanya soal hal-hal
sepele macam itu ya?
Seingatku kau jarang bersuara, menyimpan pikiran-pikiran
itu hanya untuk dirimu sendiri, bahkan tawa pun jarang kau bagi. Tapi, itu lah
yang membuatku sampai jungkir balik menggilaimu. Ish, omonganku jadi melebar.
Hatiku ada padamu, ciyuus loh. Kalau tidak percaya coba kau periksa saku-saku bajumu,
saku jaket dan kemejamu juga, atau … coba kau periksa tong sampahmu pagi ini.
Februari 2013






Posting Komentar