Read more: http://infosinta.blogspot.com/2012/04/cara-unik-agar-potingan-di-blog-tidak.html#ixzz2Kb9xz7lD Tulisan untuk Ikal (2) | Hitam di Atas Warna

Tulisan untuk Ikal (2)


Lima hari yang lalu aku berniat menelepon Mama, namun ternyata jemariku malah menekan nomor teleponmu, Ikal. Untung saja lekas aku tutup, kalau tidak kau pasti terganggu.  

Aku hanya sangat merindukan Mama dan juga suara-suara cerianya hari itu, sengaja aku memberi pulsa telepon lebih banyak dari biasanya agar aku bisa berbicara panjang lebar dengannya. Kendati, aku tahu bahwa Mama hanya akan mengumbar cerita mengenai betapa hebat suami barunya itu—ayah tiriku.

Mama akan menjawab teleponku seusai memanjakan ayah tiriku; menyiapkan hidangan makan malam, memijat bahu, menemani berbicara. Karena itu aku tetap Insomnia, selain karena kau juga karena Mama.

“Hallo, Assalamu’alaikum?”

“Wa’alaikumsalam, ada apa?”

“Hanya ingin menelepon,”

“Ada yang ingin kamu bicarakan? Jangan bilang soal Ikal yang tak kunjung membalas cintamu itu lagi, Mama suntuk sekali rasanya dengan cinta-cintamu yang selalu bertepuk sebelah tangan. Kenapa tidak pilih sesuai takdirmu saja?”

Aku menarik ujung bibirku ke arah berlawanan. Mama selalu menggerutu tiap aku bercerita tentangmu. Katanya, aku pemimpi. Katanya, aku terlalu bodoh. Katanya, aku tidak butuh lelaki, tidak untuk saat ini. Dan katanya, rambutmu tidak ikal tapi keriting, tapi peduli amat aku lebih suka memanggilmu ikal, ikal, ikal saja.

“Nggak kok Ma …”

“Lalu mau cerita apa?”

“Cerita tentang pria yang aku cintai,” ujarku tersenyum.

“Hoo. Kamu nemu yang baru rupanya. Siapa?”

“Ikal.”


Februari 2013

1 comment

Unknown | 28 Maret 2013 pukul 23.26

"Hoo. Kamu nemu yang baru rupanya. Siapa?"

"Ikal"


Bener-bener anti-klimaks di dialog ini. Saya hampir memutar mata saat membacanya hahaha. Saya masih penasaran dengan cerita tentang tokoh "aku" dan Ikal. Alangkah baiknya bila cerita ini bisa diperpanjang.

Posting Komentar