Tulisan untuk Ikal
Tulisan untuk Ikal
Aku menulis namamu diatas bulir
pasir,
Sempat berniat untuk kukerat
lantai bumi dan kujadikan pigura
Halo Ikal, apa kabar? Apakah kau masih menatap
dunia dengan pandangan menelisik—yang membuatku sadar betapa cerdasnya kau. Aku
harap detak-detak kecil yang tersembunyi di balik kain kemejamu masih terus
beriringan, aku harap mereka tak berkhianat padamu, tidak untuk saat ini.
Ikal, apakah kau tahu bahwa malam ini tanpa
sengaja aku lagi-lagi menumpahkan secangkir kopi hitam tanpa gula diatas
karpetku ketika aku menulis tentangmu? Kau pasti tidak tahu, karena aku baru
saja akan menyampaikan ini padamu lewat bisikan angin dalam bait mimpi yang
tentunya tak akan kau hiraukan.
Duniaku kini penuh dengan bunyi dari detik jam. Tik
tak. Tk tak. Begitu terus berulang-ulang. Ditambah lagi kemarin aku baru saja
merampungkan sebuah kado untuk kawanku, Winny. Isinya sebuah jam, seharga
tigapuluh ribu rupiah di Toserba dekat kampus. Kini, ada empat buah jam yang
bernyanyi di kamarku.
Selama aku mendengar detik-detik yang mulai
berlalu, entah kenapa aku jadi semakin rindu padamu. Padahal, aku ingat betul
bahwa beberapa hari yang lalu aku memutuskan untuk menyematkan rindu-rinduku
pada biji bunga dandelion agar mereka mau pergi menghilang bersama angin.
Untuk Ikal yang belum menjadi milikku. Jam tiga nanti, beker milik tetanggaku akan
berbunyi dan aku akan menemuimu dengan segera agar rindu ini hilang, dalam
mimpi.
Februari 2013






Posting Komentar