Read more: http://infosinta.blogspot.com/2012/04/cara-unik-agar-potingan-di-blog-tidak.html#ixzz2Kb9xz7lD Diam-diam, Kau Merapal Namanya | Hitam di Atas Warna

Diam-diam, Kau Merapal Namanya


Diam-diam, Kau Merapal Namanya

Juni sengaja mengetuk-ngetuk pelipir meja dengan pensil mekaniknya, membentuk irama-irama perkusi yang asal-asalan. Lehernya sudah enggan berputar meski hanya sekadar menengok ke arah jam dinding atau arloji Armani yang melingkari pergelangan tangannya.

“Juli, ini lama banget lah … bisa mati kering aku,” rengeknya.

Seorang gadis bermata bulat dengan hidung yang mencuat dari wajah manis itu terkekeh, kekehannya renyah sekali seperti kraker beras. “Ah, lu jadi cowok gak sabaran amat sih, kangen ya sama Agus?”

“Yeee … pegel tahu, dia ‘kan cowok kamu, kenapa mesti aku ikutan nunggu,”

“Kalian ‘kan mulai akrab sekarang-sekarang, berkat gue! Berterimakasih dong,” dia tertawa lagi.

“Nggak guna, Jul. Ini filmnya bentar lagi mulai, dan—“

“Hai,” sebuah tepukan mendarat di bahu Juni, seketika tubuhnya seperti di gelitik. “Lama nunggu? Maaf, Buah batu macetnya keterlaluan,” selorohnya tanpa diberi pertanyaan.

Juli tertawa, dengan serta merta kedua lengannya meraih bahu Juni dan juga Agustus—menggiring mereka ke loket tiket. Tiga tiket untuk film Harry Potter and the Order of Phoenix, nomor 13B, 14B, 15B dari seorang petugas tiket yang rambutnya berwarna brunette.

Juni-Juli-Agustus.

Agustus meletakkan lengannya di atas kursi Juli, bibirnya merapal mantra-mantra puji dan rayu di telinga Juli. Gadis itu kembali tertawa bersama dengan Juni yang merona wajahnya, ketika jemari Agustus—yang melewati kursi Juli—bertaut di jemarinya.


Februari 2013 mengingat satu adegan di Cinema XXI, Bandung Indah Plaza, 2010

Posting Komentar