Diam-diam, Kau Merapal Namanya
Diam-diam, Kau Merapal Namanya
Juni sengaja mengetuk-ngetuk pelipir meja dengan
pensil mekaniknya, membentuk irama-irama perkusi yang asal-asalan. Lehernya sudah
enggan berputar meski hanya sekadar menengok ke arah jam dinding atau arloji
Armani yang melingkari pergelangan tangannya.
“Juli, ini lama banget lah … bisa mati kering aku,”
rengeknya.
Seorang gadis bermata bulat dengan hidung yang
mencuat dari wajah manis itu terkekeh, kekehannya renyah sekali seperti kraker
beras. “Ah, lu jadi cowok gak sabaran amat sih, kangen ya sama Agus?”
“Yeee … pegel tahu, dia ‘kan cowok kamu, kenapa
mesti aku ikutan nunggu,”
“Kalian ‘kan mulai akrab sekarang-sekarang, berkat
gue! Berterimakasih dong,” dia tertawa lagi.
“Nggak guna, Jul. Ini filmnya bentar lagi mulai,
dan—“
“Hai,” sebuah tepukan mendarat di bahu Juni,
seketika tubuhnya seperti di gelitik. “Lama nunggu? Maaf, Buah batu macetnya
keterlaluan,” selorohnya tanpa diberi pertanyaan.
Juli tertawa, dengan serta merta kedua lengannya
meraih bahu Juni dan juga Agustus—menggiring mereka ke loket tiket. Tiga tiket
untuk film Harry Potter and the Order of Phoenix, nomor 13B, 14B, 15B dari
seorang petugas tiket yang rambutnya berwarna brunette.
Juni-Juli-Agustus.
Agustus meletakkan lengannya di atas kursi Juli,
bibirnya merapal mantra-mantra puji dan rayu di telinga Juli. Gadis itu kembali
tertawa bersama dengan Juni yang merona wajahnya, ketika jemari Agustus—yang melewati
kursi Juli—bertaut di jemarinya.
Februari 2013 mengingat satu adegan di Cinema XXI,
Bandung Indah Plaza, 2010






Posting Komentar