Putus.
Putus.
Semua orang berkata bahwa hidupku akan lebih baik tanpa dirimu. Semua
orang, kecuali aku.
Aku tak terbiasa dengan kondisiku kini; ruangan serba putih, ranjang dengan
kasur yang keras dan dingin, keran wastafel yang seringkali macet, dan juga
tisu toilet yang kadang tak menggulung rapi pada tempatnya. Dunia memang nampak
berbeda semenjak kita berpisah.
Langit masih biru, matahari masih hangat dan bumi tetap berputar. Ya, ya, aku pun tahu akan hal itu. Bedanya, kau tak ada di sampingku kini. Padahal, biasanya aku akan terbangun dalam ranjang yang sama denganmu lalu sama-sama kita akan mengucapkan selamat pagi dengan seiris senyum. Ah, sudah berapa lama hal itu berlalu?
Satu hari? Satu minggu? Satu bulan? Atau mungkin ... sudah satu tahun?
Entahlah, kau tahu aku tak pandai berhitung karena itu aku masuk jurusan bahasa
sewaktu kita SMA dan aku berkuliah di jurusan bahasa Indonesia juga. Kau
bilang, puisi-puisiku sangat indah dan kau suka pada mereka. Kau juga bilang,
kau suka padaku. Hampir tiap hari.
“Rika, cepat mandi dan pakai bajumu,”
Kupikir tadi mama yang memanggilku, ternyata bukan. Semenjak kita berpisah
aku ditemani oleh wanita ini, dia mirip calon mertuaku—Ibumu, selalu mengingatkan aku untuk makan dan
juga mandi. Benar-benar perempuan yang baik.
Namanya Nur, usianya kira-kira sepantar mama atau Ibumu. Rambutnya selalu
ia sembunyikan di balik kerudung yang panjangnya hingga sikut, di wajahnya tak
pernah kutemukan riasan make up
seperti eyeliner dan gincu bibir, dia bilang sudah bukan
usianya lagi untuk memakai barang seperti itu. Padahal dia cukup cantik
meskipun kerutan sudah menghinggapi wajahnya di tiap sisi.
“Rika, kamu tahu bahwa kamu harus mengaku pada mereka nanti,” ucapnya
sembari membenahi gorden jendela.
“Mengaku apa, Nur? Tak ada yang harus kuakui,”
Nur mengembuskan nafas dramatik lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kamu
tidak bisa berlama-lama disini, semua perkara dan segala tetek bengek yang
berhubungan dengan Arman harus segera kamu selesaikan,”
Nur, mengapa kau selalu menyebut nama kekasihku? Kami sudah putus. Hah,
istilah anak zaman sekarang, kalau sudah tak menjalin cinta ya harus putus. Putus
cinta; patah hati.
Aku lebih pilih diam. Terkadang Nur bisa menjadi wanita yang sangat
cerewet, omongannya mirip-mirip dengan gerbong kereta—saling menyambung dan
cepat sekali.
“Rika, berapa kali aku harus mengatakannya padamu? Soal alasanmu dikurung
disini?”
“Hanya karena aku putus dengan Arman?”
“Bukan—“
“Ayolah, aku tak pernah lihat ada
pasal yang mengharamkan sepasang kekasih untuk putus,” aku memotong ucapannya
lagi.
kamar mandi. Tempat yang kumuh
dan baunya selalu pesing. Entah siapa yang menghuni tempat ini sebelumnya,
keledai kah atau kerbau atau beragam hewan lainnya yang memang hobi sekali
kencing sembarangan sembari berdiri. Dan juga, tentu saja tanpa disiram.
Tanpa sengaja aku melirik
bercak-bercak janggal di lantai kamar mandi. O, ya. Aku ingat kemarin aku sempat
mengambil silet dan merobek sedikit dadaku; ya, hanya ingin memastikan apa
hatiku benar-benar dipatahkan Arman atau tidak, supaya nanti aku bisa
menjelaskan pada hakim jika aku memang patah hati.
Namun rasanya perih sekali,
terutama saat ujung silet itu merobek lapisan kulit pertamaku. Aku masih ingat
Nur menjerit-jerit seolah dunia akan kiamat jika hatiku memang benar patah,
kendati aku sudah sedia tiga box handsaplast
diatas nakas.
“Rika, mandinya cepetan ya,”
Aku menggumam tak jelas;
pura-pura menggosok gigi. Ah, waktu memang singkat sekali ya.
Rasanya baru kemarin adikmu
datang padaku lalu marah-marah dengan sungai air mata di wajahnya. Semua orang
sepertinya tidak ikhlas jika kita putus ya? Seingatku aku dan kau bukan raja
dan ratu kampus, bukan selebrita, dan juga bukan pejabat. Kita terlalu muda
untuk jadi pejabat, omong-omong.
Tapi berita soal kita sudah tak
bersama disiarkan dimana-mana. Sehari setelah kita putus, aku memutar radio tua
di kamarku dan mendengar namaku disebut-sebut setelah namamu. Awalnya aku pikir
kau lagi-lagi request lagu Incubus
pada mereka dan mengirim salam untukku, tahunya bukan.
Aku rasa putus tidak menjadi
masalah yang besar, tapi siapa sangka kalau ini akan menjadi besar. Apa hanya
karena proses putus kita yang tidak wajar?
Air di keran macet lagi ketika
aku memikirkanmu. Entahlah, sunyi di kamar mandi selalu membuatku terpuruk. Kalau
saja kau tidak selingkuh, kalau saja … kalau saja kau tidak mematahkan hatiku. Kalau
saja, kau tidak memutuskan tali cintaku, barangkali aku juga tidak akan
memutuskan lehermu saat itu.
Sayang, aku hanya bersikap adil
padamu. Bukankah segala sesuatu baik senang dan sakit harus kita tanggung
bersama?






Posting Komentar