Read more: http://infosinta.blogspot.com/2012/04/cara-unik-agar-potingan-di-blog-tidak.html#ixzz2Kb9xz7lD Putus. | Hitam di Atas Warna

Putus.


 Putus.

Semua orang berkata bahwa hidupku akan lebih baik tanpa dirimu. Semua orang, kecuali aku.
Aku tak terbiasa dengan kondisiku kini; ruangan serba putih, ranjang dengan kasur yang keras dan dingin, keran wastafel yang seringkali macet, dan juga tisu toilet yang kadang tak menggulung rapi pada tempatnya. Dunia memang nampak berbeda semenjak kita berpisah.

Langit masih biru, matahari masih hangat dan bumi tetap berputar. Ya, ya, aku pun tahu akan hal itu. Bedanya, kau tak ada di sampingku kini. Padahal, biasanya aku akan terbangun dalam ranjang yang sama denganmu lalu sama-sama kita akan mengucapkan selamat pagi dengan seiris senyum. Ah, sudah berapa lama hal itu berlalu?
Satu hari? Satu minggu? Satu bulan? Atau mungkin ... sudah satu tahun? Entahlah, kau tahu aku tak pandai berhitung karena itu aku masuk jurusan bahasa sewaktu kita SMA dan aku berkuliah di jurusan bahasa Indonesia juga. Kau bilang, puisi-puisiku sangat indah dan kau suka pada mereka. Kau juga bilang, kau suka padaku. Hampir tiap hari.
“Rika, cepat mandi dan pakai bajumu,”
Kupikir tadi mama yang memanggilku, ternyata bukan. Semenjak kita berpisah aku ditemani oleh wanita ini, dia mirip calon mertuaku—Ibumu, selalu mengingatkan aku untuk makan dan juga mandi. Benar-benar perempuan yang baik.
Namanya Nur, usianya kira-kira sepantar mama atau Ibumu. Rambutnya selalu ia sembunyikan di balik kerudung yang panjangnya hingga sikut, di wajahnya tak pernah kutemukan riasan make up seperti eyeliner  dan gincu bibir, dia bilang sudah bukan usianya lagi untuk memakai barang seperti itu. Padahal dia cukup cantik meskipun kerutan sudah menghinggapi wajahnya di tiap sisi.
“Rika, kamu tahu bahwa kamu harus mengaku pada mereka nanti,” ucapnya sembari membenahi gorden jendela.
“Mengaku apa, Nur? Tak ada yang harus kuakui,”
Nur mengembuskan nafas dramatik lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kamu tidak bisa berlama-lama disini, semua perkara dan segala tetek bengek yang berhubungan dengan Arman harus segera kamu selesaikan,”
Nur, mengapa kau selalu menyebut nama kekasihku? Kami sudah putus. Hah, istilah anak zaman sekarang, kalau sudah tak menjalin cinta ya harus putus. Putus cinta; patah hati.
Aku lebih pilih diam. Terkadang Nur bisa menjadi wanita yang sangat cerewet, omongannya mirip-mirip dengan gerbong kereta—saling menyambung dan cepat sekali.
“Rika, berapa kali aku harus mengatakannya padamu? Soal alasanmu dikurung disini?”
“Hanya karena aku putus dengan Arman?”
“Bukan—“
“Ayolah, aku tak pernah lihat ada pasal yang mengharamkan sepasang kekasih untuk putus,” aku memotong ucapannya lagi.
kamar mandi. Tempat yang kumuh dan baunya selalu pesing. Entah siapa yang menghuni tempat ini sebelumnya, keledai kah atau kerbau atau beragam hewan lainnya yang memang hobi sekali kencing sembarangan sembari berdiri. Dan juga, tentu saja tanpa disiram.
Tanpa sengaja aku melirik bercak-bercak janggal di lantai kamar mandi. O, ya. Aku ingat kemarin aku sempat mengambil silet dan merobek sedikit dadaku; ya, hanya ingin memastikan apa hatiku benar-benar dipatahkan Arman atau tidak, supaya nanti aku bisa menjelaskan pada hakim jika aku memang patah hati.
Namun rasanya perih sekali, terutama saat ujung silet itu merobek lapisan kulit pertamaku. Aku masih ingat Nur menjerit-jerit seolah dunia akan kiamat jika hatiku memang benar patah, kendati aku sudah sedia tiga box handsaplast diatas nakas.
“Rika, mandinya cepetan ya,”
Aku menggumam tak jelas; pura-pura menggosok gigi. Ah, waktu memang singkat sekali ya.
Rasanya baru kemarin adikmu datang padaku lalu marah-marah dengan sungai air mata di wajahnya. Semua orang sepertinya tidak ikhlas jika kita putus ya? Seingatku aku dan kau bukan raja dan ratu kampus, bukan selebrita, dan juga bukan pejabat. Kita terlalu muda untuk jadi pejabat, omong-omong.
Tapi berita soal kita sudah tak bersama disiarkan dimana-mana. Sehari setelah kita putus, aku memutar radio tua di kamarku dan mendengar namaku disebut-sebut setelah namamu. Awalnya aku pikir kau lagi-lagi request lagu Incubus pada mereka dan mengirim salam untukku, tahunya bukan.
Aku rasa putus tidak menjadi masalah yang besar, tapi siapa sangka kalau ini akan menjadi besar. Apa hanya karena proses putus kita yang tidak wajar?
Air di keran macet lagi ketika aku memikirkanmu. Entahlah, sunyi di kamar mandi selalu membuatku terpuruk. Kalau saja kau tidak selingkuh, kalau saja … kalau saja kau tidak mematahkan hatiku. Kalau saja, kau tidak memutuskan tali cintaku, barangkali aku juga tidak akan memutuskan lehermu saat itu.
Sayang, aku hanya bersikap adil padamu. Bukankah segala sesuatu baik senang dan sakit harus kita tanggung bersama?


Posting Komentar