Tulisan untuk Ikal (2)
Lima hari yang lalu aku berniat menelepon Mama,
namun ternyata jemariku malah menekan nomor teleponmu, Ikal. Untung saja lekas
aku tutup, kalau tidak kau pasti terganggu.
Aku hanya sangat merindukan Mama dan juga
suara-suara cerianya hari itu, sengaja aku memberi pulsa telepon lebih banyak
dari biasanya agar aku bisa berbicara panjang lebar dengannya. Kendati, aku
tahu bahwa Mama hanya akan mengumbar cerita mengenai betapa hebat suami barunya
itu—ayah tiriku.
Mama akan menjawab teleponku seusai memanjakan
ayah tiriku; menyiapkan hidangan makan malam, memijat bahu, menemani berbicara.
Karena itu aku tetap Insomnia, selain karena kau juga karena Mama.
“Hallo, Assalamu’alaikum?”
“Wa’alaikumsalam, ada apa?”
“Hanya ingin menelepon,”
“Ada yang ingin kamu bicarakan? Jangan bilang soal
Ikal yang tak kunjung membalas cintamu itu lagi, Mama suntuk sekali rasanya
dengan cinta-cintamu yang selalu bertepuk sebelah tangan. Kenapa tidak pilih
sesuai takdirmu saja?”
Aku menarik ujung bibirku ke arah berlawanan. Mama
selalu menggerutu tiap aku bercerita tentangmu. Katanya, aku pemimpi. Katanya,
aku terlalu bodoh. Katanya, aku tidak butuh lelaki, tidak untuk saat ini. Dan
katanya, rambutmu tidak ikal tapi keriting, tapi peduli amat aku lebih suka
memanggilmu ikal, ikal, ikal saja.
“Nggak kok Ma …”
“Lalu mau cerita apa?”
“Cerita tentang pria yang aku cintai,” ujarku
tersenyum.
“Hoo. Kamu nemu yang baru rupanya. Siapa?”
“Ikal.”
Februari 2013






1 comment
"Hoo. Kamu nemu yang baru rupanya. Siapa?"
"Ikal"
Bener-bener anti-klimaks di dialog ini. Saya hampir memutar mata saat membacanya hahaha. Saya masih penasaran dengan cerita tentang tokoh "aku" dan Ikal. Alangkah baiknya bila cerita ini bisa diperpanjang.
Posting Komentar